Aug
MEDITASI SORE

Meditasi membangkitkan kepercayaan diri dan membangun kedekatan kita dengan Yang Ilahi….
Pusat Informasi, WA: 081214248008
Jul
Rekoleksi Menyambut Fajar

Mari bergabung dalam Rekoleksi 1 malam di Rumah Retret Sarasvita serta merayakan Perayaan Ekaristi Meditatif di Rumah Retret Sarasvita…
Pendaftaran : https://forms.gle/1zdDrMNHvybrZV5C8
Pusat Informasi, WA: 08-121-424-8008
Jul

Suatu moment apakah anda pernah dihadapkan pada situasi harus memilih satu dari beberapa pilihan, kemudian tanpa berpikir panjang langsung memilih. Intuisi adalah firasat yang terbentuk dari pikiran bawah sadar. Intuisi akan semakin tajam bila kita rajin mengasahnya. Nah, mengapa kita perlu mengasah intuisi? Bagaimana caranya? Manfaat dari latihan ini? Mari, kita temukan dalam latihan bersama Bab 8. Mengasah Intuisi…
Pendaftaran LMPBS: https://forms.gle/iXKH8J8E3cFGmSnk9
Jul

Dengan bermeditasi kita dibantu membersihkan pikiran dari gelisah, marah dan serakah. Penuh dengan kesadaran, cinta kasih dan kebijaksanaan……
Sudahkan Anda meluangkan waktu untuk bermeditasi?
Pendaftaran Meditasi pagi:
https://forms.gle/JKuZbUi1Qe1q9TXc6

Pendaftaran Meditasi Sore:
https://forms.gle/wFkpAPEKWpnR8EgM8
Pusat Informasi: 08-121-424-8008
Jul
Retret Bersahabat dengan Alam

Retret bersahabat dengan Alam mengajak untuk semakin mendekatkan dengan alam semesta. Semakin dekat dengan alam semesta, mendekatkan pula pada Sang Pencipta.
Ikuti retret bersama Sr Agnes Samosir FCJ dan Tim Sarasvita, pada hari Jumat, 29 Juli 2022 pukul 15.00 WIB sampai dengan hari Minggu, 31 Juli 2022, pukul 13.30 WIB.
Form Pendaftaran : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfHxvDclCndIGVaX2YIeSffcPoDk5plQmAj62GDy49zGEm6Ug/viewform
Informasi lebih lanjut hubungi Sekretariat Sarasvita – SMS/WA 0812-1424-8008
Jun
Oleh Agnes Samosir FCJ – Koordinator Program di FCJ Sarasvita Center
Hidup di dunia dipenuhi pengalaman jatuh dan bangun. Tantangan hadir mengundang kita untuk bertumbuh. Namun, keterbatasan kita sebagai manusia tanpa disadari membuat kita menjadi stress, mudah cemas atau putus asa dalam menghadapi tantangan. Bila berkepanjangan, stress menyebabkan daya tahan tubuh rendah, membuat bagian-bagian di tubuh kita terganggu, termasuk jantung, ginjal, perut atau otak kita sendiri.
Paus Fransiskus, dalam Dokumen Gaudete et Exsultate, memanggil kita ke arah kekudusan. Salah satu ciri kekudusan dalam masa sekarang ini adalah sukacita dan humor. Dalam dokumennya ini, Paus mengatakan, “Para kudus mampu hidup dengan sukacita dan rasa humor. Tanpa lari dari kenyataan, mereka memancarkan semangat positif dan kaya akan pengharapan bagi sesama. Menjadi orang kristen adalah “sukacita dalam Roh” (Rom 14:17), sebab “cinta kasih seharusnya diikuti sukacita. Karena siapa yang mengasihi selalu menikmati kesatuan dengan yang dikasihi …Maka kasih diikuti sukacita.” (GE 122)
Bagaimana caranya agar kita tetap memancarkan semangat positif, suka cita dan rasa humor, tanpa lari dari tantangan hidup? Berikut adalah sharing pengalaman dan pengetahuan hidup yang menunjukkan betapa tertawa itu bisa membawa keajaiban, lebih-lebih di tengah badai yang menerpa.

Tertawa itu membahagiakan - Foto Sarasvita FCJ CenterTawa Membawa Keajaiban
Pada suatu hari, dua suster misionaris sedang berziarah ke Sendangsono. Peziarahan mereka dimulai dari Slanden menuju Gereja Promasan. Perjalanan ini cukup menantang. Hanya sedikit daerah yang menurun. Selebihnya menanjak hingga Gereja Promasan. Setiba di Gereja Promasan, mereka berhenti sejenak. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Gua Maria, mereka pergi kamar kecil. Suster A, yang lebih muda dan baru belajar Bahasa Indonesia, bertanya pada rekannya, Suster B, yang lebih lama tinggal di Indonesia. Katanya, “which room is for us: ‘Putra’atau ‘Putri’?” Yang maksudnya kamar kecil mana untuk mereka, yang bertuliskan ‘Putra’ atau bertuliskan ‘Putri’.
Suster B juga bingung dan tidak bisa menjawab, berhubung pengetahuan Indonesianya terbatas. Beberapa menit kemudian, ada seorang bapak tua berjalan melalui mereka. Sambil memikirkan kosa kata Indonesia yang tepat serta menyusun kalimat sesuai dengan struktur bahasa yang benar, Suster B mendekati bapak itu. Dengan penuh kepercayaan diri, Suster B menyapa, “Permisi, Pak,” sambil menempatkan tangan kanan ke dadanya, ia bertanya, “Saya, putra atau putri?” Wajah bapak itu kelihatan bingung. Suster B mengulangi lagi pertanyaannya, “Saya, putra atau putri?” Bapak itu diam sejenak… Sambil mengarahkan telunjuknya ke Suster B, ia berkata “You … are … a… woman!” Langsung, setelah itu, sang bapak pergi meninggalkan mereka.
Kedua misionaris ini terkejut terdiam menerima jawaban yang tak diduga itu. Tak lama kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, Suster B berkata dengan penuh keyakinan, “I know now. We go to the ‘putri’. (Saya tahu sekarang. Kita pergi ke kamar kecil bertuliskan “putri”.) Are you sure?” tanya Suster A. “Yes,” jawab rekannya.
“How do you know?”, tanyanya lagi. Spontan sambil membuat tanda salib dengan penuh hormat, Suster B berkata , “Dalam nama Bapa dan Pu – te – RA!”
Walau sering diceritakan berulang-ulang, kisah ini menyegarkan jiwa dan terus terasa hangat dalam benak saya. Dalam situasi penuh tantangan berada di negeri asing, dengan pengetahuan bahasa lokal yang terbatas, mereka menanggapi jawaban bapak itu dengan tawa. Dengan tertawa, suster itu menerima dengan rendah hati kebenaran akan kesalahannya. Bapak itu menjawab dengan jujur dan tepat, sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Dengan tertawa kedua suster ini menyambut jawaban yang mengejutkan ini. Sebenarnya, mereka menantikan jawaban dalam Indonesia dengan satu kata: ‘putra’ atau ‘putri’. Tak disangka, jawaban bapak itu berbeda 180 derajat!

Karena tawa, sadar tidak sadar, terjadilah peralihan pandangan. Jawaban bapak ini membawa mereka ke perspektif yang berbeda, ke dimensi yang melampaui ruang dan waktu. Keberadaan pada dimensi yang berbeda ini menggetarkan otak kanan Suster B menangkap sinyal-sinyal ide kreatif dan inspiratif yang membuatnya menemukan solusi yang sederhana namun cemerlang! Di balik tawa ada keajaiban tersendiri. Cerita jenaka ini menginspirasikan saya untuk tertawa, berhati ringan dan riang dalam menghadapi hidup.
Tawa itu Menyehatkan
Pada tahun 2009, setelah mengalami honey moon beberapa bulan pertama di tanah misi baru di Myanmar, saya mulai mengalami kesepian dan kekeringan. Saat itu situasi politik negara ini cukup tegang. Sebagai orang asing, gerak-gerik saya sering diamati oleh mata-mata pemerintah. Setiap dua minggu sekali, kami harus melapor ke pemerintah lokal, dan setiap 70 hari kami harus keluar Myanmar untuk memperbaharui visa. Rasa marah dan frustrasi muncul karena kebebasan bergerak terbatas dan kebebasan berkomunikasi dengan dunia luar terputus.
Saya merasa down. Saya mudah tersinggung dan marah. Kekebalan tubuh menurun sehingga sering sakit kepala. Saat bepergian, saya mudah sakit perut setelah makan makanan asing khususnya yang segar dan tidak dimasak. Rasa frustasi yang bercampur ketakutan, juga kebingungan bercampur pemberontakan membuat saya sakit migran dan vertigo.
Di suatu pagi, saat hening, ada suara mengatakan, “sudah cukup!”. Suara itu terdengar jelas dan memanggil saya untuk berbuat sesuatu di saat desolasi. Sudah saatnya untuk menerima keadaan apa adanya. Tidak menyalahkan orang lain, tidak mengutuk budaya atau bahasa asing. Suara ini terus bergema sehingga membuat mata saya terperangkap oleh buku berjudul “Laugh For No Reason (Terapi Tawa)” oleh Dr. Madan Kataria, pendiri Gerakan Klub Tawa, yang berdiri di salah satu rak buku di suatu toko buku.
Lewat buku ini, saya terinspirasi membangun kebiasaan tertawa setiap hari selama lima menit tanpa sebab. Usai mengajar Bahasa Inggris di Campion Institute, seperti biasa dalam perjalanan pulang, saya melintasipohon-pohon tua di sepanjang Jalan Universitas dekat Universitas Yangon. Sambil berjalan, saya keluarkan hand phone saya, saya dekatkan ke telinga saya. Saya mulai tertawa kecil berakting seolah-olah lewat telepon, saya sedang mendengar cerita lucu dari lawan bicara saya. Lambat laun saya tertawa terbahak-bahak, sedemikian rupa hingga perut saya ikut tertawa (belly laughter).

Tertawa membawa kesegaran - Foto Sarasvita FCJ CenterTernyata, setelah rutin melakukan latihan tawa tanpa sebab ini, stress saya berkurang dan kekebalan tubuh saya bertambah. Hingga saat ini, rasa sakit termasuk karena vertigo dan migran hilang. Saya jarang sekali sakit kepala atau flu. Neurosains mengungkapkan bahwa tertawa dengan atau tanpa alasan memberi energi positif pada tubuh kita. Tertawa merangsang produksi hormon endorfin dan membantu tubuh meningkatkan kadar hormon dopamin dan serotonin. Hormon-hormon ini menormalkan tekanan darah dan mengurangi produksi hormon yang berkaitan dengan stres, termasuk hormon kortisol. Ketiga hormon, yang dikenal juga sebagai hormon ‘bahagia’ ini, membantu meningkatkan suasana hati yang menyenangkan, merasa puas, bersemangat dan meningkatkan kekebalan tubuh. Benar bahwa tawa membuat pikiran rileks dan hati bersemangat. Saya lebih positif dalam melihat hidup, bertanggung jawab atas apa yang terjadi, termasuk emosi atau perasaan yang muncul. Terasa meningkat kemampuan saya untuk berfokus pada solusi daripada masalah. Ide-ide kreatif bermunculan dan ada energi untuk menjadikan ide-ide itu tertuang dalam kenyataan hidup. Dengan tertawa didukung dengan bermeditasi, mengolah batin dan berhubungan dengan alam, peziarahan hidup misionaris di Myanmar dapat saya jalani selama sepuluh tahun dengan damai dan riang hati.
Tertawa itu Membentuk Persaudaraan
Ketika ada perbedaan pandangan dalam bekerja sama, tertawa mencairkan suasana tegang. Tertawa membuat jiwa bersikap positif dan berhati ringan, memampukan diri untuk beralih pandang, memfokuskan diri pada solusi daripada masalah. Permainan untuk memenuhi kebutuhan menang atau kebutuhan paling benar sudah tidak banyak pengaruhnya lagi. Suasana tegang dicairkan oleh intensi hati yang murni untuk kebaikan bersama (care for the whole). Rasa aman tercipta, mengijinkan kerapuhan hati muncul di permukaan, menggetarkan jiwa untuk berbelas kasih, merekatkan persaudaraan sejati.

Tertawa membawa persaudaraan - Foto Sarasvita FCJ CenterTertawa itu Menular
Beberapa tahun lalu, seorang tenaga sukarela dari Australia menginap di Susteran kami. Beliau mengajar Bahasa Inggris di salah satu universitas di Yogyakarta. Di suatu hari, di saat sarapan, ada suatu percakapan yang membuat saya tertawa lepas. Tiba-tiba, ia muncul dari kamar tidurnya yang kebetulan dekat dengan ruang makan. Dengan tersenyum, ia mengatakan bahwa ia senang dengan tawa saya. Katanya, tawa saya menular, membuatnya bangun dengan gembira. Spontan, ia meminta saya untuk merekam tawa saya. Saya cukup kaget dan menanyakan kegunaan rekaman itu. Katanya, tawa saya bagus untuk dijadikan alarm. Sudah seringkali saya mendengar pujian semacam ini. Saya bersyukur karena rupanya tawa saya menularkan energi positif pada orang lain, mengundang mulut melebar dan tersenyum, mencerahkan wajah, meringankan hati dan menyegarkan jiwa.

Tertawa itu menular - Foto Sarasvita FCJ CenterMarilah tertawa setiap hari. Badai kehidupan takkan pernah pergi dari kehidupan kita. Kata Joan Rivers, artis dan pelawak Amerika Serikat, “Hidup ini sangat sulit. Jika kamu tidak tertawa, itu sulit.” Tawa dapat memberi energi hidup dan membangun daya tahan dalam mengarungi bahtera kehidupan. Kita tetap bisa tertawa walau badai datang. Bahkan di tengah-tengah tsunami kehidupan, tertawa memampukan kita untuk cerdik seperti ular dan halus seperti merpati. Mari kita menyambut panggilan Paus Fransiskus menuju kekudusan dengan penuh kepercayaan diri, antusias dan harapan. Mari menciptakan energi tawa setiap hari!
Tulisan ini dipublikasikan pada Majalah Rohani No.04, Tahun ke-19, April 2022
Jun
Retret Mampir Minum Guru Yayasan Pendidikan Kanisius Yogyakarta pada tahun 2022 diselenggarakan dalam beberapa gelombang. Retret Mampri Minum Guru yang biasa disingkat RMMG menjadi kesempatan bagi para guru mengambil waktu sejenak untuk bertemu dengan diri sendiri dan pengalaman-pengalamannya. Beberapa guru membagikan pengalamannya.
Berikut pengalaman sebagian peserta RMMG, semoga menjadi inspirasi yang menyegarkan.

Dewi Marlina Candrawati – SD Kanisius Kotabaru I, peserta RRMG Gelombang 4
Hari ini Jumat, 29 April 2022 merupakan hari yang luar biasa untuk saya, setelah 1 minggu lebih saya dinyatakan oleh dokter ada indikasi “saraf kejepit” dan harus menjalani terapi. Dalam situasi tersebut, puji Tuhan, saya mendapati kesempatan untuk mengikuti rekoleksi di Sarasvia dan boleh belajar meditasi bersama untuk mengolah, menyatukan jiwa dan raga. Pada saat diminta rebahan awalnya punggung dan pinggang terasa sangat panas, bahkan sampai membuat saya menangis karena menahan sakit. Dalam meditasi ini saya berusaha untuk lebih merasakan diri sendiri dan menerima energi positif untuk berterimakasih pada diri sendiri dan tubuh. Puji Tuhan (Alleluia pada Tuhan) setelah meditasi, saya merasakan sakit yang ada di punggung hilang, merasakan enak/tidak sakit lagi serta badan terasa ringan.

Paulina Rukun Triandari, S.Pd., – SD Kanisius Condong Catur, Peserta RMMG Gelombang 5
Sebelum kami berangkat rekoleksi yang dilaksanakan dari pagi sampai sore; badan saya terasa sangat “lungkrah”, tidak enak sekali, kepala pusing, tidak ada napsu makan pagi sampai menjelang berangkat rekoleksi. Namun ketika saya memasuki halaman rumah retret Sarasvita, saya merasakan ada getaran kasih dan semangat untuk mengikuti rekoleksi dan berdinamika bersama teman-teman peserta yang lain. Pada saat Sr Agnes Samosir, FCJ pada sesi 1 memberikan kesempatan untuk bermeditasi di halaman, terasa sapaan dari Tuhan untuk bersemangat menjadi diri sendiri. Kepala mulai bersahabat dan tidak pusing.
Ingin bahagia? Jadilah diri sendiri, jangan disconnect (tidak terhubung) dengan orang lain. Pesan ini yang saya temukan dalam rekoleksi dan akan saya bawa sepulang dari sini. Saya baru menyadari kalau selama ini saya sering disconnect (tidak terhubung) baik di sekolah, di rumah, di lingkungan.
Sesi terakhir rekoleksi ditujukan untuk refresh (penyegaran) jiwa dan raga yang dikemas dengan gerak dan lagu. Sebelumnya didahului dengan meditasi pengaturan nafas dan mendengar sapaan Tuhan yang sungguh mengasihi kita semua. Kami ingin menjadi diri sendiri, akan selalu connect (terhubung) dengan hati dan pikiran diri sendiri.
Sungguh pengalaman yang luar biasa. Sepulang dari mengikuti Rekoleksi di Sarasvit,a jiwa dan raga terasa fresh, hati terasa happy, nyaman dan lega. Thank you so much love you, I care for you. Berdamai dengan diri sendiri.

Endang Setya – SMP Kanisius Pakem, Peserta RMMG Gelombang 5
Pengalaman mengikuti rekoleksi hari ini sungguh sangat luar biasa. Semula bayangan saya, kegiatannya akan sangat membosankan terlebih dengan waktunya yang mepet, mendekati liburan, apalagi rekoleksi dilaksanakan dari pagi sampai sor. Membuat suasana hati yang rasanya tidak ikhlas, “nggrundel” dan berbagai perasaan yang tidak mengenakkan.
Akan tetapi, semua perasaan itu hilang setelah masuk dan berproses dalam kegiatan. Melihat pendamping rekoleksi yaitu Suster Agnes Samosir, FCJ untuk pertama kali, saya sudah langsung tertarik. Wajahnya meneduhkan dan kata-katanya sungguh menyejukkan jiwa dan membuat gembira.
Ketika masuk pada sesi meditasi, saya benar-benar memperoleh pengalaman yang membuat rasa nyaman, rileks, dan menghargai tubuh serta diri sendiri. Saya yang merasakan sesak napas seolah-olah terhimpit beban berat ketika dalam keadaan gelap (mata terpejam bukan tidur), tadi mampu melewati dengan baik dan rasa sesak itu hilang.
Pokoknya rekoleksi kali ini berbeda dengan rekoleksi biasanya. Dan hal utama yang saya peroleh adalah bahwa saya disasarkan untuk mencinta diri sendiri sebelum mencintai orang lain, menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri karena bahagia itu sebuah pilihan. Dan yang tidak kalah penting adalah mulai belajar mengabaikan segala perkataan orang lain, karena selama ini saya selalu memikirkan apa kata orang lain tentang saya. Terimakasih Suster Agnes dan tim atas hari ini. Semoga masih ada kesempatan untuk bisa bertemu kembali. Salam berkah Dalem

May
Doa Rosario
Pada Jumat, 7 Mei 2021, kami “berjalan bersama Bunda Maria” di Kolam Sarasvita. Kami bersama berdoa rosario diikuti meditasi singkat … merasakan kehadiran Bunda Maria secara lebih personal. Mari bergabung bersama kami pada doa rosari pada Jumat 14 Mei 2021.









Apr
MEDITASI
KEINDAHAN bermeditasi bersama : bertemu orang-orang yang bersemangat sama, hening dan damai, membantu mengembangkan kebiasaan bermeditasi, ada kesempatan untuk mendengarkan sharing pengalaman bermeditasi, mengurangi stress atau kesepian dan lebih sehat. Kebersamaan mendukung perjalanan batin kita masing-masing, Bermeditasi bersama menciptakan gelombang energi damai yang mengalir disekitarnya termasuk Alam Semesta…..mengurangi konflik atau tingkat kejahatan.
Sebuah kelompok kecil dari orang bijak dan berkomitmen dapat mengubah dunia ini.” Margaret Mead-seorang antropolog budaya Amerika
Meditasi di Sarasvita Hari Kamis, 15 dan 29 April 2021, pukul 17.00 – 18.00 WIB.
Mar
RETRET MAMPIR MINUM GURU-GURU KANISIUS
Sarasvita di Tahun 2021 memberi PENGHARGAAN kepada guru-guru yang terus berkomitmen dan bekerja keras selama masa pandemi ini demi pendidikan anak-anak kita untuk masa depan yang lebih cerah dengan menfasilitasi 24 rekoleksi (Maret-Desember) kepada guru-guru Kanisius dan guru-guru Agama Katolik di sekolah negeri Sleman. MOHON DUKUNGAN & DOANYA. Berikut ini kegiatan rekoleksi Guru-guru Tk & SD Kanisius dari Gunung Kidul: Kaliwuluh, Ngawen, Wonosari, pada 19 Maret dan Pulutan, Bandung, & Baleharjo pada 20 Maret.








